Sampurasun,
Sengaja saya luangkan pada blog ini, biar kelak ada pembaca yang memahami bagaimana saya begitu mengagumi sosok ayah. Saya adalah anak kedua dari dua saurara. Saya adalah wanita kedua setelah ibu saya. Mungkin akan sampai kepada ayah, tak apa.. saya gengsi tapi perasaan ini harus saya curahkan. Ketika ditanya siapa cinta pertamamu? Saya jawab ayah.
Ayah. Beliau adalah sosok yang mengajarkan untuk menjadi wanita seutuhnya dan sebenarnya. Ayah mendidik anak-anaknya tidak pernah keras namun mampu membuat anak-anaknya menjadi segan padanya. Ayah sosok yang gak pernah marah, semarahnya ayah cuma *natap mata dengan tatapan tajam* kemudian bilang 'gimanasi', begitu saja sudah level paling marahnya. Kedua anaknya terjamin walaupun kami bukan berasal dari keluarga serba ada secara instan. Ayah selalu menuruti kemauan anak, tapi anak juga harus nurut sama ayah. Ayah bukan tipe yang anaknya sekali minta sesuatu langsung ada, tapi ada beberapa proses didikannya juga. Ayah membuat saya malu, iya malu karena beliau begitu spesial untuk saya yang mengharuskan dirinya sebagai standarku dalam memilah pasangan kelak.
Ayah hebat, padahal sedari saya beranjak dewasa dan belum memahami betul perasaan bersalah padanya dia selalu paham akan keegoisan ini yang belum stabil. Saya paham betul pasti kekhawatiranmu pada anakmu ini amat besar. Tapi saya malah menyepelekan itu, sering sekali kekhawatirannya membuat saya kesal. Ketika saya mulai memahami sedikit tentang pacaran, pada saat itu ayah mengeluarkan peraturan di rumah, 'paling malam jam 9 sudah di rumah'. Ketika ayah tau saya sudah punya pacar, jiwa reporternya dikeluarkan. Ayah tanya asal, usul, bebet, dan bobot dia.
Mulailah di tahap kuliah, kekhawatiran ayah semakin meninggi. Kala itu saya sedang menjalin hubungan lagi. Tetap dipertanyakan bagaimana asal, usul, bibit, dan bobotnya. Saya paham kenapa ayah seperti itu, karena ayah mana yang rela melepas anak perempuannya ke tangan lelaki yang salah? Sampai ketika ayah mengeluarkan peraturan baru di rumah, 'bebas, asal pulang dalam keadaan sadar'. Beliau masih sering mengkhawatirkan saya, Meskipun kekhawatirannya seringkali membuat saya kesal, karena selalu menganggap saya anak kecil. Ayah juga adalah sosok yang sering duduk gelisah menunggu di kursi teras rumah ketika saya belum pulang malam hari bahkan sampai larut malampun dia bisa tetap menunggu di teras rumah. Ayah selalu berusaha agar terlihat tidak khawatir, ayah selalu menyuruh ibu untuk menguhungi saya untuk menanyakan keberadaan. Ayah selalu berusaha terlihat baik-baik saja walaupun saya tahu dalam keadaan tertentu ayah sedang tidak baik-baik.
ketika saya semakin mencintai cinta pertama..
Saat itu saya sudah bekerja dengan sistem shifting di daerah Jakarta Selatan. Sedari SMA sampai kerjapun ayah selalu buatkan bekal, menyiapkan, dan menaruh di dekat tas yang biasa saya bawa. Kadang ayah membuatkan porsi lebih banyak biar bisa dimakan bareng teman. Jika tidak termakan saya bawa bekal itu ke kamar dan saya makan walaupun perut kenyang ya tidak apa tersisa sedikit. Saya merasa bersalah kalau ayah saya sampai melihat bekalnya dibawa pulang kembali, walaupun sebenarnya tidak masalah. Ayah juga selalu tanya 'na kerja masih betah?, kalau udah ga betah keluar aja ya' ketika ayah bilang seperti itu pasti ayah dalam perasaan cemas dengan versinya. Tidak jarang, sampai stasiun kereta sudah dini hari. Ada kenangan manis nan romantis, setiap pulang kerja ayah selalu sudah siap menunggu di stasiun Depok Baru semalam apapun itu, walau lebih dari tengah malam sekalipun, sambil membawa cemilan entah yang dibuatnya atau dibelinya. Ayah ga pernah izinin untuk pulang dengan ojek online, padahal lebih aman kalau ayah diam saja di rumah. Ketika pertengahan tahun 2017 - 2018 menjelang akhir tahun, kami merasa berjuang bersama melewati ujian demi ujian. Ayah sakit-sakitan, mungkin dalam sebulan beberapa kali ke rumah sakit. Rumah sakit yang ayah percayai terbilang rumah sakit besar, tapi kenapa tak kunjung sembuh. Sampai keluar biaya yang tidak sedikit. Saat itu saya sudah mulai bekerja, dan super sibuk. Setiap pagi biasanya diantar ayah ke stasiun walaupun pagi buta, setiap malam biasanya dijemput ayah walaupun dini hari, tapi suatu suana yang sangat berbeda ayah tidak bisa menjemput. Suatu kondisi yang mana sudah benar-benar tidak kuat versinya, yang biasanya sedang gejala tifuspun beliau masih sanggup interaksi dan bergerak dengan baik. Tapi ini beliau sedang sakit tapi tetap menanyakan keberadaanku, sudah kebayang beliau tetap sedikit cemas. Sesampainya di rumah sebenarnya untuk masuk ke kamarnya saja tidak sanggup, bukan apa-apa.. tapi saya takut nangis di depan beliau yang hanya berbaring saja, untuk mengucap kangen di hadapannya saja saya gengsi bagaimana jika beliau tahu saya menangis untuknya. Saya sempat bingung, lambat laun kondisinya tidak stabil diajak untuk pergi berobat lagi pun beliau segan. Sementara beliau hanya mau diseka badannya dan dimasakan olehku. Saat itu Ibu harus menjalani kewajiban kantornya untuk dinas ke luar kota sebentar dan bekerja seperti biasa sepulang itu. Bukan Ibu yang tidak mau untuk mengurus ayah, tapi saya yang terketuk untuk mengurus beliau sebagai sedikit pengganti jasa beliau yang luar biasa. Hari demi hari kondisi ayah menurun, susah sekali untuk membujuk dia dibawa ke rumah sakit. Sampai akhirnya beliau menyerah dan berhasil dibujuk ke rumah sakit. Kala itu sore hari dengan naik motor saya bonceng beliau ke rumah sakit, ingin rasanya menangis tapi masih bisa ditahan. Sedih melihat kondisi beliau dan harus mengantar dengan motor karena beliau bilang sudah tidak kuat dan menghindari kemacetan. Sesampainya di sana beliau harus dirawat, tenang rasanya hati ini jika sudah dapat penanganan semestinya.
Sedikit sebagian yang bisa diutarakan karena begitu banyak sekali kebaikan dan momen indah yang sulit dirangkai menjadi plot. Entah mengapa jika mengingat situasi kala itu yang banyak tidak terplot.. masih bisa sesak dan menangis kembali. Bahkan sayapun rela untuk berhenti bekerja saat itu demi bisa mendampingi dan mengetahui perkembangan beliau.
Salam.
With Love,
-Nanaonnan
Komentar
Posting Komentar