Sampurasun :)
Prasangkaku kali ini melanjutkan sedikit banyak dari cerita Bandungku yang sudah satu tahun mangkak, dan baru dipublish.
Prasangkaku kali ini melanjutkan sedikit banyak dari cerita Bandungku yang sudah satu tahun mangkak, dan baru dipublish.
Selamat menikmati dengan hikmat :)
Sampai saat ini kuyakin bukan hanya aku saja yang pernah merasakan patah hati. Tentu semua wanita-wanita lain, pernah merasakan yang namanya putus cinta kemudian sakit hati. Bagaimana tidak, patah hati yang sebagian besar diumpamakan seperti sayap yang patah pada sisi satunya saja. Pikirku saat mengalami hal itu ya aku tidak sendiri, semua pasti pernah merasakan hanya saja tergantung seberapa besar porsi cintanya yang bisa kembali membuat bumerang untuk dirinya sendiri.
Ini adalah kisahku, sakit putus cinta yang aku rasakan saat itu kupercayakan akan berlalu cepat atau lambat sesuai dengan kemampuanku untuk berusaha melewatinya. Tapi bagiku,tidak perlu lagi putar haluan ke belakang.. cukup dipetik saja ilmunya dan dipelajari agar tidak terulang kembali pada kisah di lain waktu. Bagiku, jika kembali sama saja akan mengulang kesalahan yang sama dengan orang yang sama lalu kemudian akan merasakan sakit kembali, dan ritme seperti itu akan senantiasa berputar.
Sampai saat ini kuyakin bukan hanya aku saja yang pernah merasakan patah hati. Tentu semua wanita-wanita lain, pernah merasakan yang namanya putus cinta kemudian sakit hati. Bagaimana tidak, patah hati yang sebagian besar diumpamakan seperti sayap yang patah pada sisi satunya saja. Pikirku saat mengalami hal itu ya aku tidak sendiri, semua pasti pernah merasakan hanya saja tergantung seberapa besar porsi cintanya yang bisa kembali membuat bumerang untuk dirinya sendiri.
Ini adalah kisahku, sakit putus cinta yang aku rasakan saat itu kupercayakan akan berlalu cepat atau lambat sesuai dengan kemampuanku untuk berusaha melewatinya. Tapi bagiku,tidak perlu lagi putar haluan ke belakang.. cukup dipetik saja ilmunya dan dipelajari agar tidak terulang kembali pada kisah di lain waktu. Bagiku, jika kembali sama saja akan mengulang kesalahan yang sama dengan orang yang sama lalu kemudian akan merasakan sakit kembali, dan ritme seperti itu akan senantiasa berputar.
----------
Lelaki yang pernah kukagumi dan saling mengisi waktu hingga melengkapi kekurangan ternyata tidak seperti yang kubayangkan di awal dulu. Semua seakan-akan dibalikan begitu saja. Hancur.. pada waktunya. Tidak selang lama setelah saya menetap kembali di Depok, kitapun kandas di tengah cerita yang cukup menarik. Ya, Setiabudi dan sekitarnya kini telah menjadi saksi bisu yang cukup pelik. Kenangan-kenangan sederhana yang menarik hati membuat sulit untuk melepas cerita tersebut berikut dengan Bandungya. Kebiasaan untuk datang ke Bandungpun bagiku menjadi sungkan.. sungkan sekali. Bagaimana tidak, jika kupaksakan untuk pergi ke Bandung tidak menutup kemungkinan akan mengingatkan segala hal. Walaupun maksud hati ingin bersenang-senang melepas penat, perasaan untuk teringat kembali pasti akan ada.
Sampai beberapa bulan ternyata belum pulih juga. Akhirnya bersama teman yang paham betul dengan cerita ini, kita sempatkan untuk membuat planning. Sungguh, terima kasih yang mendalam untuk teman terdekat pada saat itu. Planning tersebut beralandasan karena semua cerita diawali dan diakhiri di kota tersebut.
Suatu pagi hingga kembali ke dini hari kita sempatkan setidaknya 8 orang menghabiskan waktu di sebuah kafe di Depok hanya untuk mendengarkan rangkaian plot yang kusampaikan. Amat sangat terima kasih, dengan cara teman-temanku yang begitu hangat membela sikonku.
Bandung
Hari pertama kita agendakan menyusuri Setiabudi sampai ke jalan pelosok Gegerkalong Hilir - Ground Futsal - lanjut ke Asia Afrika - Braga. Hari pertama berlalu serasa cepat sekali dan tidak sama sekali ada mengungkit sedikitpun masa lalu. Hari ke dua tujuan dilanjutkan ke kampus UPI & Unpas - PVJ - Dago bawah - Kopi Rustic dan masih diakhiri tanpa mengingat masa lalu sedikitpun, seakan-akan hampir lupa. Hari ketiga checkout langsung menuju ke Setiabudi kembali dan ke PVJ sampai menunggu malam hari sekitar pukul 22.00, karena kita punya tujuan terakhir yang benar-benar tidak diduga-duga. Yap malam itu kita akhiri di Sobbers, Setiabudi hehe dan ga kerasa sudah pukul 03.00 pagi. Kita memang open table tapi diantara 8 orang ini tidak satupun yang ada dalam pengaruh alkohol. Benar-benar bisa melupakan begitu saja soal masa lalu tanpa teringat sedikitpun, entah bagaimana cara mereka merumuskan semua ini.
Sekitar pukul 03.00 pagi kita langsung beranjak dari tempat itu, tanpa melimpir lagi Depok langsung jadi tujuan utamanya. Rasanya sampai saat inipun masih kagum, kenapa bisa hanya dengan 3 hari kubisa normal kembali dengan batin yang sehat. Selang beberapa minggu kumulai bisa dengan hati netral untuk bolak-balik ke Bandung seperti dulu lagi, dari mulai saat itu kumulai solo travelling kemanapun tanpa rasa cemas. Akhirnya kumemutuskan untuk setiap ke Bandungpun untuk stayed di Jardin.
Mindset ku adalah aku harus bahagia. Ya, intinya bahagia dengan apapun caraku. Seperti, aku mencoba membuka hati kembali tapi bukan untuk mengharapkan mendapatkan kekasih pengganti, melainkan untuk dijadikan teman sebanyak-banyaknya. Dari permasalahan ini kubelajar ilmu ikhlas yang benar-benar dari hati. Aku sangat mengagumi diriku sendiri atas permasalahan ini.
Mungkin pembaca bingung, mengapa sampai sebegininya? Cukup aku dan sebagian kecil orang yang paham betul case ini.
Bandung, terima kasih karena begitu manis.
-Jika ada kesamaan tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.
With Love,
-Nana.
Komentar
Posting Komentar